Rabu, 12 November 2014

makalah sejarah pendidikan islam



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sejarah merupakan kejadian atau peristiwa masa lampau yang dibuktikan dengan adanya buku, bangunan, budaya dan tradisi yang bisa mempengaruhi kehidupan kehidupan sekarang dan yang akan datang. Berbicara masalah sejarah, berarti mempelajari kejadian di masa lalu, dengan mengambil pelajaran atau hikmah dari kejadian tersebut, guna sebagai pertimbangan sikap untuk tetap pada pendirian kejadian sejarah tersebut, atau perlu ada konstruksi situasi dengan melihat alur perkembangan dunia sekarang, bahkan sebagai orientasi masa depan. Sejarah, selalu memberikan penjelasan atas sebuah keadaan (peristiwa, tokoh, keadaan, pikiran, dan perkataan). Meminjam konsep sejarahnya Kuntowijiyo (2008: 2), dalam pandangannya, sejarah mempunyai filsafat ilmu sendiri, ada permasalahan, dan akan menjelaskan atas permasalahan tersebut.
            Dalam hal ini pendidikan masa islam klasik yakni pada zaman Rasulullah SAW yang bisa kita ambil nilai yang bisa laksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia pendidikan islam dalam diri Rasulullah itu telah ada suri toladan yang dapat kita tiru dan laksanakan sebagai hukum kita dalam kehidupan berbangsa  dan bernagara.
Dalam makalah ini pun, berusaha menguraikan sedikit permasalahan seputar sejarah yakni sejarah pendidikan Islam di masa kejayaan klasik, guna untuk menumbuhkembangkan wawasan generasi di dalam pengetahuan, khususnya sejarah peradaban islam.
Adapun kajian sejarah pendidikan Islam pada makalah ini, terfokus pada kajian sejarah pendidikan Islam di Mekkah, yang kita tahu bersama Islam dalam da`wahnya Rasulullah pertama kali terdapat dua tempat yang mendasar, yakni Mekkah dan Madinah.
Mekkah sebagai tempat pertama kali Rasulullah dalam berda`wah, tentunya dasar pendidikan yang beliau kembangkan tentu punya nilai kesejarahan yang sangat bermentalitas (ghirah yang kuat). Bagaimana metode, materi, kurikulum, dan proses-proses pendidikan di Mekkah, serta bagaimana kontekstualiasi di masa sekarang, yang sekiranya bisa dijadikan pertimbangan dalam mengembangkan kualitas dalam pendidikan Islam sekarang, hal inilah dalam uraian lebih lanjut akan dijelaskan di makalah ini. Semoga apa yang di deskripsikan dalam makalah ini, senantiasa bisa menjadi inventariasi keilmuwan, khususnya keilmuwan tentang sejarah pendidikan Islam.
B.     Batasan Masalah
Sehubungan dengan uraian latar belakang di atas, uraian makalah ini bermaksud menjelaskan tentang Sejarah Pendidikan Islam periode Islam Klasik di Mekkah. Dalam kajian ini adalah  di spesifikasikan, di antaranya:
1)      Menjelaskan Sejarah Pendidikan Islam di Mekkah.
2)      Menjelaskan Tahapan Pendidikan Islam di Mekkah.
3)      Menjelaskan Materi Pendidikan Islam di Mekkah.
4)      Menjelaskan Metode Pendidikan Islam di Mekkah.
5)      Menjelaskan Kurikulum Pendidikan Islam di Mekkah.
6)      Menjelaskan Lembaga Pendidikan Islam di Mekkah.
7)      Kontekstualisasi Pendidikan Islam di Indonesia.
















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Pendidikan Islam Di Mekkah
Pendidikan Islam merupakan warisan dan perkembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman ajaran Islam dalam rangka terbentuknya kepribadian utama menurut Islam. Munculnya ilmu pendidikan telah memotivasi umat Islam untuk menelusuri perjalanan sejarah pendidikan Islam. Sejarah Pendidikan Islam pada masa Rasulullah periode Mekkah, yakni Sejak Nabi diutus sebagai Rasul hingga hijrah ke Madinah-kurang lebih sejak tahun 611 M – 622 M atau selama 12 tahun tahun 5 bulan 21 hari, sistem pendidikan Islam lebih bertumpu kepada Nabi. Bahkan tidak ada yang mempunyai kewenangan untuk memberikan atau menentukan materi-materi pendidikan, selain Nabi (Suwendi, 2004:7).
Nabi Muhammad Saw menerima wahyu yang pertama di gua Hira, Mekkah pada tahun 610 M. Dalam wahtu itu termaktub yang artinya sebagai berikut : “Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang telah menjadikan (semesta alam) ! Dia menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya” (QS. al-Alaq  :1-5).
Dalam proses pendidikan pertamanya Nabi Muhammad di ajarkan mengenai tauhid, keimanan, dan bagaimana Beliau di ajarkan membaca lewat perantara malaikat jibril di dalam gua. Pendidikan tentang ajaran islam yang beliau alami sangat berpengaruh bagi dunia islam berikutnya, dimana semenjak wahyu itu diturunkan perkembangan islam mulai dilaksanakan walau dengan sangat tersembunyi sekalai.
Menurut  Mahmud Yunus dalam sejarah pendidikan Islam, menyatakan bahwa pembinaan pendidikan Islam pada masa Mekkah ini meliputi :
  1. Pendidikan Keagamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan mempersekutukanNya dengan berhala, karena Dia Tuhan yang Maha Besar dan Maha Pemurah, sebab itu hendaklah dienyahkan berhala itu sejauh-jauhnya.
  2. Pendidikan Aqliyah dan Ilmiyah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta.
  3. Pendidikan Akhlaq dan Budi Pekerti, Nabi Muhammad Saw mengajar sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid.
  4. Pendidikan Jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan, bersih pakaian, bersih badan dan bersih tempat kediaman. (Zuhairini dkk, 1986 : 27).
B.     Tahapan Pendidikan Islam Di Mekkah
Pola pendidikan yang dilakukan Rasulullah Sejalan dengan tahapan-tahapan dakwah yang disampaikan kepada kaum Quraisy. Dalam hal ini Kamaruzzaman di dalam buku Sejarah Pendidikan Islam membagi kepada 3 tahap :
1)      Tahap pendidikan Islam secara Rahasia dan Perorangan
Pada awal turunnya wahyu pertama Al Quran surat Al Alaq ayat 1-5, Pola pendidikan yang dilakukan adalah sembunyi-sembunyi mengingat kondisi sosial-politik yang belum stabil, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarga dekatnya. Mula-mula Rasulullah mendidik isterinya, Khadijah untuk beriman dan menerima petunjuk dari Allah, kemudian diikuti oleh anak angkatnya Ali ibn Abi Thalib (anak pamannya) dan Zaid ibn Haritsah (seorang pembantu rumah tangganya yang kemudian diangkat menjadi anak angkatnya). Kemudian sahabat karibya Abu Bakar Siddiq. Secara berangsur-angsur ajakan tersebut di sampaikan secara meluas, tetapi masih terbatas di kalangan keluarga dekat dari suku Quraisy.
2)      Tahap pendidikan Islam secara terang-terangan
Perintah dakwah secara terang-terangan dilakukan oleh Rasulullah, seiring dengan jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk meningkatkan jangkau seruan dakwah, karena diyakini dengan dakwah tersebut banyak kaum Quraisy yang akan masuk agama Islam. Dalam penyebaran agama islam secara terang-terangan yang di lakukan oleh Rasulullah banyak dari kalangan sahabat belau yang masuk agama islam dan bahkan dari kaum Qurays sendiri, tetapi halangan dan hambatn  juga bgitu banyak yang datang dari kaum Qurays Makkah bahkan ada dari kalangan keluarga beliau yang menolak ajakan Belau untuk ikut agama islam, tapi Rasulullah terus maju pantang mundur karna didukung oleh Allah SWT dan keluarga beliau.
3)      Tahap pendidikan Islam untuk Umum
Rasulullah mengubah strategi dakwahnya dari seruan yang terfokus kepada keluarga dekat beralih kepada seruan umum, umat manusia secara keseluruhan. Seruan dalam skala “internasional” tersebut didasarkan kepada perintah Allah dalam surah Al Hijr ayat 94-95 (Nizar, 2007:32).
C.    Materi Pendidikan Islam Di Mekkah
Islam yang pertama kali lahir dari tanah Arab, dan tantangan pengajaran tentang Islam pertama kali, bermuara di Mekkah. Mekkah yang sebelum kedatangan Islam, sangat jauh dari nilai-nilai aqidah monotheisme (tauhid) sebagaimana yang sudah di usung oleh junjungan Nabi-nabi sebelumnya. Sebagai implikasinya, Rasulullah dalam penguatan materi pendidikan di periode Mekkah sangat mengutamakan perbaikan aqidah dan tauhid (As Sirjani, 2011: 363).
Secara umum, muatan materi pendidikan pada Islam periode Mekkah yang diberikan oleh Rasulullah di bagi empat bagian, antara lain, yaitu :
Pertama, pendidikan tauhid, materi ini lebih difokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim, yang telah diselewengkan oleh masyarakat jahiliyyah. Secara teori, inti sari ajaran ini termuat dalam kandungan surat al-Fatihah [1] : 1-7, dan al-Ikhlas [112] : 1-5. Selain itu, pelaksanaan atau praktek pendidikan tauhid juga yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya dengan cara yang sangat bijaksana yaitu dengan menuntun akal pikiran untuk mendapatkan dan meniru pengertian tauhid yang di ajarkan, dan sekaligus beliau memberikan teladan dan contoh bagaimana pelaksanaan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara kongkrit, kemudian beliau memerintahkan agar umatnya mencontoh praktek pelaksanaan tersebut sesuai dengan apa yang dicontohkannya. Berarti di sini Nabi Muhammad SAW telah mampu menyesuaikan diri dengan pola kehidupan masyarakat jahiliah dengan mengajarkan ilmu tauhid secara baik dengan tanpa kekerasan.
Kedua, materi pengajaran al-Qur`an. Dalam materi ini dirinci kepada: (1) Materi baca tulis (dalam dunia sekarang dikenal imla` dan iqra`), (2) Materi menghafal ayat-ayat al-Qur`an, dan (3) Materi pemahaman al-Qur`an (dalam dunia sekarang dikenal fahmi al-Qur`an atau tafsir al-Qur`an (Yunus, 1989: 11-12).
Ketiga, pendidikan amal dan ibadah, dimana berupa perintah sholat yang awal mulanya, Nabi sholat bersama sahabat-sahabatnya secara sembunyi-sembunyi. Namun setelah Umar ibn Khattab masuk Islam beliau melakukannya secara terang-terangan. Pada mulanya sholat itu belum dilakukan sebanyak lima kali sehari semalam kemudian setelah Nabi Isra’ dan Mi’raj barulah diwajibkan untuk sholat lima waktu. Selain itu, mengajarkan seputar zakat, yakni semasa di Mekkah konsep zakat diberikan kepada fakir miskin dan anak-anak yatim serta membelanjakan harta untuk jalan kebaikan.
Keempat, pendidikan akhlaq, di mana Nabi semasa di Mekkah sangat menekankan kepribadian yang baik (akhlaqul mahmudah), diantaranya :
  1. Adil yang mutlak, meskipun terhadap keluarga atau diri sendiri.
  2. Pemaaf.
  3. Menepati janji, tepat pada waktunya.
  4. Takut kepada Allah semata dan tiada takut kepada berhala.
  5. Berbuat kebaikan kepada kedua orangtua, dan sebagainya. (Yunus, 1989: 11-12)
Pada Islam Mekkah materi pengajaran al-Quran yang diberikan hanya berkisar pada ayat-ayat al-Quran pada surah-surah yang diturunkan ketika Nabi sebelum Hijrah ke Madinah. Surah yang diturun di Mekkah inilah yang kemudian dikenal dengan nama surah Makkiyah (Suwendi, 2004:7).
D.    Metode Pendidikan Islam Di Mekkah
Pendidikan Islam adalah rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan – kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga terjadilah perubahan pribadinya sebagai makhluk individual, sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana ia hidup (Mahrus & Salim, 2008: 162).
Untuk mencapai pada pengertian pendidikan tersebut tentunya seorang pendidik memerlukan metode-metode yang tepat dalam pelaksanaan pendidikan. Begitu juga dengan Rasulullah dalam mendidik sahabat-sahabatnya. Adapun metode pendidikan yang dilakukan Rasulullah dalam mendidik sahabatnya, antara lain :
  1. Metode ceramah.
  2. Dialog.
  3. Diskusi / tanya jawab.
  4. Metode perumpamaan.
  5. Metode kisah.
  6. Metode pembiasaan.
  7. Metode hafalan. (Nizar, 2007:35)
Adapun yang menjadi salah satu faktor penting metode pendidikan Islam, adanya kejayaan pendidikan Islam yang dijalankan Rasulullah Saw. Faktor tersebut ialah “karena beliau menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi umatnya. Rasulullah Saw adalah al-Qur’an yang hidup (the living Qur’an), artinya pada diri Rasulullah SAW tercermin semua ajaran al-Qur’an dalam bentuk nyata. Beliau adalah pelaksana pertama semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangannya. Oleh karena itu para sahabat dimudahkan dalam mengamalkan ajaran Islam yaitu dengan meniru perilaku Rasulullah Saw.”
E.     Kurikulum Pendidikan Islam periode Mekkah
Kurikulum merupakan pedoman ataupun dasar dalam pelaksanaan pendidikan. Pada masa Rasulullah kurikulum yang digunakan adalah Al Quran yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami pada saat itu (Nizar, 2007:36). Al-Qur`an pu merupakan sentral kurikulum saat itu, yang mana kurikulum saat itu masih sering di definisikan dengan materi ajar. Maka, sebagai langkah awal, muatan materinya berfokus pada nilai-nilai tauhid dalam menguatkan militansi untuk beragama Islam. Philip K Hitti pun menambahkan, bahwasanya materi pelajaran atau kurikulum sangat berorientasi kepada al-Qur`an sebagai texbook (Susari, 2004: 33).
F.     Lembaga Pendidikan Islam Pada Islam Mekkah
Dalam catatan sejarah pendidikan Islam di periode Mekkah, menyebutkan ada dua tempat yang menjadi lembaga pendidikan Islam pada periode Mekkah, di antaranya :
1.      Rumah Arqam ibn Arqam
Rumah Arqam ibn Arqam merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah Saw untuk belajar hukum-hukum dan dasar-dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaga pendidikan pertama atau madrasah yang pertama sekali dalam Islam, adapun yang mengajar dalam lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri.
2.      Kuttab
Kuttab merupakan tempat pendidikan yang paling tua, bahkan ada yang mengatakan Kuttab lahir sebelum datangnya Islam. Pendidikan di Kuttab pada awalnya lebih terfokus pada materi baca tulis sastra, syair Arab, dan pembelajaran berhitung namun setelah datang Islam materinya ditambah dengan materi baca tulis al-Quran dan memahami hukum-hukum Islam. Philip K. Hitti menambahkan, bahwasanya materi pelajaran di Kuttab sangat berorientasi kepada al-Qur`an sebagai texbook. Kuttab dalam modernisasi sekarang bisa disamakan dengan madrasah ibtidaiyyah. Adapun waktu belajar di Kuttab, waktu pagi hingga dhuha mempelajari al-Qur`an, dhuha hingga siang mempelajari cara menulis, sedang dhuha hingga siang, mempelajari gramatikal Arab, matematika, dan sejarah. (Nizar, 2007: 36-37, As Sirjani, 2011: 203, Susari, 2004: 34).
Dua tempat pendidikan tersebut, menjadi dasar perkembangan tempat-tempat pendidikan yang semakin berkembangnya zaman, adanya inovasi, khususnya pada bangunan tempat pendidikan, guna mengkondusifkan sebuah pengajaran.
G.    Kontekstualisasi Pendidikan Islam di Indonesia
Dalam uraian panjang diatas, yang membahas bagaimana kondisi pendidikan Islam di periode Mekkah (tinjauan Islam klasik), ada uraian penting pendidikan Islam di Mekkah saat itu, di antaranya, materi, metode, kurikulum, dan lembaga pendidikan Islam.
Pada era reformasi sekarang, khususnya potret pendidikan Islam di Indonesia, ada sebuah harapan utama dari cita-cita pendidikan Islam saat ini. salah satunya, masyarakat Indonesia membutuhkan peran pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitas manusia (Sanaky, 2003: 4). Maka, gagasan pembaruan atau modernisasi pendidikan, khususnya pendidikan Islam, menjadi diskurus pengembangan dalam kualitas pendidikan Islam.
Maka, dalam merespon pembaruan pendidikan tersebut, dengan melihat perspektif pendidikan Islam saat di Mekkah, ada beberapa bentuk kontekstualisasi pendidikan Islam di Mekkah ke dalam pendidikan Islam di Indonesia saat ini, yakni berupa nilai aktualisasi pendidikan Islam di Mekkah ke Indonesia, guna membentuk masyarakat madani Indonesia.
1.      Visi Misi Pendidikan Islam
Dalam periode Mekkah visi misi yang di bangun saat itu lebih mengarah pada penekanan Islam secara mendasar. Masih kuatnya agama nenek moyang yang sudah bercampur dengan nuansa syirik, pendidikan Islam hanya menekankan pada penguatan nilai-nilai ke Tauhid-an. Pada era sekarang, tantangan pendidikan Islam semakin besar, Teuku Amiruddin (dalam Sanaky, 2003: 143) mengusulkan lima visi dasar yang tawarkan oleh UNESCO (United Nation Education Scientific, and Cultural Organization). Lima visi tersebut di antaranya,
            Pertama, learning to think (belajar bagaimana berfikir), artinya proses pemberanian sikap kritis, mandiri, dan hobi membaca.
Kedua, learning how to do (belajar bagaimana melakukan), artinya memuat aspek-aspek ketrampilan dalam keseharian hidup termasuk bisa memecahkan permasalahan pribadi.
Ketiga, learning how to be (belajar bagaimana menjadi diri), artinya memuat aspek-aspek mendidik orang agar dikemudian hari, guna bisa tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang mandiri, memiliki harga diri, dan bukan hanya sekedar memiliki having (materi).
Keempat, learning how to learn (belajar untuk belajar hidup), artinya menyadarkan bahwa pengalaman sendiri tidak cukup untuk sebagai bekal hidup, sehingga terjadi ketidakpuasan, dan selalu belajar dan belajar.
Kelima, learning live together (belajar hidup bersama), artinya masyarakat pendidikan memberikan ruang bagi pembentukan kesadaran bahwa manusia hidup dalam sebuah dunia yang global bersama banyak manusia dari belahan dunia dan ragamnya latar belakang.
Dalam konsep ini, bila dipadukan dengan Islam, setidaknya pendidikan Islam akan mengedepankan sikap rasional, kritis, mandiri, mampu memecahkan masalah, mengembangkan sikap kreatif, imajinatif, toleransi, perdamaian, menghargai hak asasi manusia serta siap bersaing di dunia yang semakin global, itulah cita-cita pendidikan Islam dalam rumusan visi misi yang ideal (Sanaky, 2003: 144).
Akan tetapi, dalam rumusan idealnya visi misi tersebut, perlu dilandasi dengan core beliefs, core values, serta menetapkan berbagai program “kebijakan” dan “strategi”, yaitu menetapkan berbagai program dan kegiatan untuk mencapai tujuan dengan memanfaatkan berbagai potensi yang ada.
2.      Strategi Pendidikan Islam
Strategi atau tahap-tahap pendidikan Islam di periode Mekkah, dengan cara sembunyi-sembunyi, perseorangan, kemudian berlanjut secara terang-terangan, dan berlaku secara universal. Artinya, Strategi tersebut masih bisa di definiskan sebagai konsep da`wah. Dimana ada proses dan dilaksanakan secara step by step. Sedangkan dalam pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan Islam kini, menurut Sanaky (2003: 145), ada empat strategi yang dikembangankan, pertama, pemerataan kesempatan dalam memperoleh pendidikan. Kedua, relevansi pendidikan, ketiga, peningkatan kualitas pendidikan, dan keempat, efisiensi pendidikan (Sanaky, 2003: 145).
3.      Reorientasi Tujuan Pendidikan
Di periode Mekkah, tujuan pendidikan saat itu terbatas dalam mengenal Islam secara mendasar dengan merujuk pada al-Qur`an dan as-Sunnah. Sebagai turunan dari visi misi pendidikan Islam di atas, ada rumusan sederhana tujuan pendidikan Islam, yakni mengupayakan kebahagiaan di dunia dan akhirat, menghamba diri kepada Allah Swt, memperkuat keislaman, melayani kepentingan masyarakat Islam, dan akhlak mulia (Sanaky, 2003: 153). Meminjam pendapat Hasan Langgulung, tujuan pendidikan berorientasi pada tujuan dari sumber tersebut, adanya realisasi dari pengetahuan, ketrampilan, tingkah laku, sikap, dan kebiasaan (Langgulung, 1989: 9).
Pendapat ini di perkuat Ibnu Khaldun (dalam Ramayulis, 1998: 25-26) menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam mempunyai dua tujuan, yaitu; pertama, tujuan keagamaan, ialah beramal untuk akhirat sehingga ia menemui Tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan ke atasnya. Kedua, tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan, yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan hidup.
Maka, sejatinya rumusan tujuan pendidikan Islam, sangat diharapkan manusia (maksud peserta didik) membentuk pribadi muslim dalam menentukan keeksistensiannya, berupa beribadah kepada Allah (QS. Adz Dzariyat [56]: 56) dan memegang peran sebagai khalifah fil ardhi (QS. al-Baqarah [2]: 30 ; QS. al-Isra` [17]: 70). Sanaky menambahkan, hal-hal tersebut yang sejatinya bisa menyentuh hal yang bersifat problematis, strategis, antisipatif, serta dapat menyentuh kepentingan masyarakat (Sanaky, 2003: 157). Maka, semangat Qur`ani di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, atau meminjam istilah Mangunwijaya dan Paulo Freire adalah pendidikan hadap masalah, artinya tantangan pendidikan sebagai langkah solusi dalam memecahkan problem masyarakat.
4.      Reorientasi Kurikulum
Kurikulum pendidikan Islam di masa klasik sering disamakan dengan materi ajar. Dimana kurikulum atau materi ajar sangat terbatas pada pelajaran-pelajaran agama, demi menguatkan nilai-nilai tauhid, untuk beribadah pada Allah, dengan al-Qur`an dan as-Sunnah sumber pedoman hidup. Tetapi, dalam pandangan modern, kurikulum tidak hanya terbatas pada materi ajar, rencana pelajaran, atau bidang studi.
Akan tetapi orientasi kurikulum saat ini, dalam pandangan Ahmad Tafsir semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah, baik itu tujuan, isi, metode, proses, dan evaluasi belajar mengajar (Tafsir, 2008: 53-54).
Melihat potret kurikulum pendidikan Indonesia, sering terjadi bongkar-pasang (konstruksi) kurikulum. Perkembangan kurikulum mengalami beberapa tahap konstruksi mulai dari tahun 1968, 1975, 1984, 1994, 2004 (KBK), 2006 (KTSP), (Muhaimin : 149). Terlebih dalam wacana sekarang ini (2013), terdapat proyek baru dalam dunia pendidikan Indonesia, yakni “kurikulum 2013” yang siap di terapkan pada pertengahan tahun 2013. Baik buruknya kurikulum ini, belumlah bisa dinilai, karena belum di terapkan.
5.      Reorientasi Metodologi Pendidikan Islam
Metodologi pendidikan sering diartikan sebagai prinsip-prinsip yang mendasari kegiatan, mengarahkan perkembangan seseorang, khususnya proses belajar mengajar (Sanaky, 2003: 191). Dalam pendidikan Islam, metodologi diartikan usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga terjadilah perubahan pribadinya sebagai makhluk individual, sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana ia hidup (Mahrus & Salim, 2008: 162). Ahmad Tafsir (1998: 131), bahwasanya metode pendidikan Islam dalam pelaksanaan pengajaran adalah untuk mengembangkan aspek afektif menuju terbentuknya pribadi muslim.
Sedangkan menurut al-Nahwlawi (dalam Tafsir, 1998: 135), metode pendidikan Islam harus sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa, dan mengembangkan semangat. Di antara metode tersebut, antara lain: (a ) metode hiwar (percakapan) Qur`ani dan Nabawi ; (b) metode kisah Qur`ani dan Nabawi ; (c) metode amtsal (perumpamaan) Qur`ani dan Nabawi ; (d) metode keteladanan dan pembiasaan ; (e) metode ibrah dan mau`izah ; (f) metode targhib dan tarhib.
Metode tersebut, sekiranya sama halnya metode yang di kembangkan oleh pemikir pendidikan dari Barat yang mengistilahkan metode active learning (pembelajaran aktif). Dimana peserta didik terpusat sebagai subjek dan objek pendidikan. Tidak ada sentralisasi (dominasi) pembalajaran dari guru.
Melihat diskursus pendidikan saat ini, ada salah satu problematik dalam dunia pendidikan, yakni di khotomiknya ilmu. Dimana dalam sisi epistemologi pendidikan, pendidikan Barat cenderung antroposentris mengedepankan nilai-nilai kemasyarakatan, sedang pendidikan Islam terjebak pada dogma-dogma agama (Abdullah, 2001: 105-106). Artinya perlu ada semangat mengintegrasikan ilmu dan agama yang berujung pada internalisasi nilai-nilai Islam dalam ilmu modern.
Sebagai implikasinya, konsepsi metodologi dalam pendidikan Islam pun, mampu menjawab tantangan masyarakat (antrophosentris), yang tentunya berbasis nilai-nilai keagamaan. Maka, orientasikan metodologi pendidikan Islam adalah berupa pembelajaran (student learning) dengan paradigma holistik, rasional, partisipatori, pendekatan empirik deduktif, sehingga menghasilkan peserta didik yang berkualitas, kreatif, inovatif, yang mampu menerjemahkan dan menghadirkan agama dalam perilaku individu dan sosial di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern mulia (Sanaky, 2003: 200).

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pokok pembinaan pendidikan Islam di kota Mekkah adalah pendidikan tauhid, titik beratnya adalah menanamkan nilai-nilai tauhid ke dalam jiwa setiap individu muslim. Hal ini ditanamkan Rasulullah Saw, karena pada saat itu kondisi masyarakat Mekkah masih dalam keadaan jahiliyah dan masih banyak yang menyembah berhala. Tujuan penanaman nilai-nilai tauhid ini adalah agar jiwa mereka terpancar sinar tauhid dan tercermin dalam perbuatan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Islam Mekkah merupakan Islam terberat bagi Nabi Muhammad SAW. Karena di Mekkah Nabi banyak mengalami kesulitan dan tantangan dari masayarakat Mekkah yang masih belum menerima adanya agama Islam. Hal ini dapat dilihat pada tahap awal Pendidikan Islam yang dilakukan Rasulullah yang dilakukan secara tersembunyi dan hanya berkisar pada kerabat dekatnya saja.
Dan seiring perkembangan zaman, tantangan pendidikan, khususnya dalam pendidikan Islam sangat besar. Dengan berpijak dasar pendidikan Islam di periode Mekkah, penulis berupaya mereaktualisasikan konsep pendidikan dalam dunia sekarang, khususnya sebagai respon dalam pendidikan Islam di Indonesia. Ada beberapa aspek bentuk orientasi yang di uaraikan, berupa visi misi, tujuan, kurikulum, dan metodologi dalam pendidikan Islam.
B. Kritik dan Saran
Tentulah dalam penulisan ini, masih luput dari berbagai kekurangan, karena perlu disadari banyaknya ragam pengetahuan yang ada. Keterbatasan dan kelemahan dari pengetahuan penulis juga mejadi faktor ketidaksempurnaan penulisa ini. Maka, masukan dari dosen dan mahasiswa, ataupun publik umum menjadi penutup di balik ketidaksempurnaan penulisan ini, semata berikhtiyar untuk mencari sebuah idealnya sebuah realitas khususnya dalam merespon diskursus pendidikan Islam.




DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Shodiq. 2001. “Rekonsiliasi Epistemologi, Ikhtiyar dalam Mengatasi Dikhotomik Ilmu dalam Pendidikan Islam”, dalam Abdul Khaliq, dkk (ed). Paradigma Pendidikan Islam. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
As Sirjani, Raghib. 2011. Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.
Kuntowijoyo. 2008. Penjelasan Sejarah. Jogjakarta: Tiara wacana.
Langgulung, Hasan. 1989. Manusia dan Pendidikan, Suatu Analisa Psikologi, Filsafat, dan Pendidikan. Jakarta: Pustaka Al Husna.
Mahrus, Erwin, dan Moh. Haitami Salim. 2008. Pengantar Studi Islam. Pontianak : STAIN Pontianak Press.
Muhaimin. 2009. Rekonstruksi Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Nizar, Samsul. 2008. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Kencana Prenada Media.
Ramayulis. 1998. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta. Kalam Mulia.
Sanaky, Hujair A.H. 2003. Paradigma Pendidikan Islam, Membangun Masyarakat Madani Indonesia. Jogjakarta: Safiria Insania Press.
Susari. 2004. “Lembaga-lembaga Pendidikan Islam sebelum Madrasah”, dalam Abuddin Nata (ed), Sejarah Pendidikan Islam, Periode Klasik hingga Modern. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Suwendi. 2004. Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Tafsir, Ahmad. 2008. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Rosdakarya.
Yunus, Mahmud. 1989. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : PT. Hidakarya Agung.
Zuhairini, dkk. 1986. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: IAIN dan Depag