BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sejarah merupakan kejadian atau peristiwa masa lampau yang
dibuktikan dengan adanya buku, bangunan, budaya dan tradisi yang bisa
mempengaruhi kehidupan kehidupan sekarang dan yang akan datang. Berbicara
masalah sejarah, berarti mempelajari kejadian di masa lalu, dengan mengambil
pelajaran atau hikmah dari kejadian tersebut, guna sebagai pertimbangan sikap
untuk tetap pada pendirian kejadian sejarah tersebut, atau perlu ada konstruksi
situasi dengan melihat alur perkembangan dunia sekarang, bahkan sebagai orientasi
masa depan. Sejarah, selalu memberikan penjelasan atas sebuah keadaan
(peristiwa, tokoh, keadaan, pikiran, dan perkataan). Meminjam konsep sejarahnya
Kuntowijiyo (2008: 2), dalam pandangannya, sejarah mempunyai filsafat ilmu
sendiri, ada permasalahan, dan akan menjelaskan atas permasalahan tersebut.
Dalam hal ini pendidikan masa islam
klasik yakni pada zaman Rasulullah SAW yang bisa kita ambil nilai yang bisa
laksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia pendidikan islam dalam diri
Rasulullah itu telah ada suri toladan yang dapat kita tiru dan laksanakan
sebagai hukum kita dalam kehidupan berbangsa
dan bernagara.
Dalam makalah ini pun, berusaha menguraikan sedikit
permasalahan seputar sejarah yakni sejarah pendidikan Islam di masa kejayaan klasik,
guna untuk menumbuhkembangkan wawasan generasi di dalam pengetahuan, khususnya
sejarah peradaban islam.
Adapun kajian sejarah pendidikan Islam pada makalah ini,
terfokus pada kajian sejarah pendidikan Islam di Mekkah, yang kita tahu bersama
Islam dalam da`wahnya Rasulullah pertama kali terdapat dua tempat yang
mendasar, yakni Mekkah dan Madinah.
Mekkah sebagai tempat pertama kali Rasulullah dalam
berda`wah, tentunya dasar pendidikan yang beliau kembangkan tentu punya nilai
kesejarahan yang sangat bermentalitas (ghirah yang kuat). Bagaimana metode,
materi, kurikulum, dan proses-proses pendidikan di Mekkah, serta bagaimana
kontekstualiasi di masa sekarang, yang sekiranya bisa dijadikan pertimbangan
dalam mengembangkan kualitas dalam pendidikan Islam sekarang, hal inilah dalam
uraian lebih lanjut akan dijelaskan di makalah ini. Semoga apa yang di
deskripsikan dalam makalah ini, senantiasa bisa menjadi inventariasi keilmuwan,
khususnya keilmuwan tentang sejarah pendidikan Islam.
B. Batasan
Masalah
Sehubungan dengan uraian latar belakang di atas, uraian
makalah ini bermaksud menjelaskan tentang “Sejarah
Pendidikan Islam periode Islam Klasik di Mekkah”. Dalam kajian ini adalah di
spesifikasikan, di antaranya:
1) Menjelaskan Sejarah Pendidikan Islam
di Mekkah.
2) Menjelaskan Tahapan Pendidikan Islam
di Mekkah.
3) Menjelaskan Materi Pendidikan Islam
di Mekkah.
4) Menjelaskan Metode Pendidikan Islam
di Mekkah.
5) Menjelaskan Kurikulum Pendidikan
Islam di Mekkah.
6) Menjelaskan Lembaga Pendidikan Islam
di Mekkah.
7) Kontekstualisasi
Pendidikan Islam di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Pendidikan Islam Di Mekkah
Pendidikan Islam merupakan warisan dan perkembangan budaya
manusia yang bersumber dan berpedoman ajaran Islam dalam rangka terbentuknya kepribadian
utama menurut Islam. Munculnya ilmu pendidikan telah memotivasi umat Islam
untuk menelusuri perjalanan sejarah pendidikan Islam. Sejarah Pendidikan Islam
pada masa Rasulullah periode Mekkah, yakni Sejak Nabi diutus sebagai Rasul
hingga hijrah ke Madinah-kurang lebih sejak tahun 611 M – 622 M atau selama 12
tahun tahun 5 bulan 21 hari, sistem pendidikan Islam lebih bertumpu kepada
Nabi. Bahkan tidak ada yang mempunyai kewenangan untuk memberikan atau
menentukan materi-materi pendidikan, selain Nabi (Suwendi, 2004:7).
Nabi Muhammad Saw menerima wahyu yang pertama di gua Hira,
Mekkah pada tahun 610 M. Dalam wahtu itu termaktub yang artinya sebagai
berikut : “Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang telah menjadikan
(semesta alam) ! Dia menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan
Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan kepada manusia apa yang belum
diketahuinya” (QS. al-Alaq :1-5).
Dalam proses pendidikan pertamanya Nabi Muhammad di ajarkan
mengenai tauhid, keimanan, dan bagaimana Beliau di ajarkan membaca lewat
perantara malaikat jibril di dalam gua. Pendidikan tentang ajaran islam yang
beliau alami sangat berpengaruh bagi dunia islam berikutnya, dimana semenjak
wahyu itu diturunkan perkembangan islam mulai dilaksanakan walau dengan sangat
tersembunyi sekalai.
Menurut Mahmud Yunus
dalam sejarah pendidikan Islam, menyatakan bahwa pembinaan pendidikan Islam
pada masa Mekkah ini meliputi :
- Pendidikan Keagamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan mempersekutukanNya dengan berhala, karena Dia Tuhan yang Maha Besar dan Maha Pemurah, sebab itu hendaklah dienyahkan berhala itu sejauh-jauhnya.
- Pendidikan Aqliyah dan Ilmiyah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta.
- Pendidikan Akhlaq dan Budi Pekerti, Nabi Muhammad Saw mengajar sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid.
- Pendidikan Jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan, bersih pakaian, bersih badan dan bersih tempat kediaman. (Zuhairini dkk, 1986 : 27).
B. Tahapan
Pendidikan Islam Di Mekkah
Pola pendidikan yang dilakukan Rasulullah Sejalan dengan
tahapan-tahapan dakwah yang disampaikan kepada kaum Quraisy. Dalam hal ini
Kamaruzzaman di dalam buku Sejarah Pendidikan Islam membagi kepada 3 tahap :
1) Tahap pendidikan Islam secara
Rahasia dan Perorangan
Pada awal turunnya wahyu pertama Al Quran surat Al Alaq ayat
1-5, Pola pendidikan yang dilakukan adalah sembunyi-sembunyi mengingat kondisi
sosial-politik yang belum stabil, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarga
dekatnya. Mula-mula Rasulullah mendidik isterinya, Khadijah untuk beriman dan
menerima petunjuk dari Allah, kemudian diikuti oleh anak angkatnya Ali ibn Abi
Thalib (anak pamannya) dan Zaid ibn Haritsah (seorang pembantu rumah tangganya
yang kemudian diangkat menjadi anak angkatnya). Kemudian sahabat karibya Abu
Bakar Siddiq. Secara berangsur-angsur ajakan tersebut di sampaikan secara
meluas, tetapi masih terbatas di kalangan keluarga dekat dari suku Quraisy.
2) Tahap pendidikan Islam secara
terang-terangan
Perintah dakwah secara terang-terangan dilakukan oleh
Rasulullah, seiring dengan jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk
meningkatkan jangkau seruan dakwah, karena diyakini dengan dakwah tersebut
banyak kaum Quraisy yang akan masuk agama Islam. Dalam penyebaran agama islam
secara terang-terangan yang di lakukan oleh Rasulullah banyak dari kalangan
sahabat belau yang masuk agama islam dan bahkan dari kaum Qurays sendiri,
tetapi halangan dan hambatn juga bgitu
banyak yang datang dari kaum Qurays Makkah bahkan ada dari kalangan keluarga
beliau yang menolak ajakan Belau untuk ikut agama islam, tapi Rasulullah terus
maju pantang mundur karna didukung oleh Allah SWT dan keluarga beliau.
3) Tahap pendidikan Islam untuk Umum
Rasulullah mengubah strategi dakwahnya dari seruan yang
terfokus kepada keluarga dekat beralih kepada seruan umum, umat manusia secara
keseluruhan. Seruan dalam skala “internasional” tersebut didasarkan kepada
perintah Allah dalam surah Al Hijr ayat 94-95 (Nizar, 2007:32).
C. Materi Pendidikan
Islam Di Mekkah
Islam yang pertama kali lahir dari tanah Arab, dan tantangan
pengajaran tentang Islam pertama kali, bermuara di Mekkah. Mekkah yang sebelum
kedatangan Islam, sangat jauh dari nilai-nilai aqidah monotheisme
(tauhid) sebagaimana yang sudah di usung oleh junjungan Nabi-nabi sebelumnya.
Sebagai implikasinya, Rasulullah dalam penguatan materi pendidikan di periode
Mekkah sangat mengutamakan perbaikan aqidah dan tauhid (As Sirjani, 2011: 363).
Secara umum, muatan materi pendidikan pada Islam periode
Mekkah yang diberikan oleh Rasulullah di bagi empat bagian, antara lain, yaitu
:
Pertama, pendidikan tauhid, materi ini
lebih difokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim,
yang telah diselewengkan oleh masyarakat jahiliyyah. Secara teori, inti sari
ajaran ini termuat dalam kandungan surat al-Fatihah [1] : 1-7, dan al-Ikhlas
[112] : 1-5. Selain itu, pelaksanaan atau praktek pendidikan tauhid juga yang
diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya dengan cara yang sangat
bijaksana yaitu dengan menuntun akal pikiran untuk mendapatkan dan meniru
pengertian tauhid yang di ajarkan, dan sekaligus beliau memberikan teladan dan
contoh bagaimana pelaksanaan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara
kongkrit, kemudian beliau memerintahkan agar umatnya mencontoh praktek
pelaksanaan tersebut sesuai dengan apa yang dicontohkannya. Berarti di sini
Nabi Muhammad SAW telah mampu menyesuaikan diri dengan pola kehidupan
masyarakat jahiliah dengan mengajarkan ilmu tauhid secara baik dengan tanpa
kekerasan.
Kedua, materi pengajaran al-Qur`an. Dalam
materi ini dirinci kepada: (1) Materi baca tulis (dalam dunia sekarang dikenal imla`
dan iqra`), (2) Materi menghafal ayat-ayat al-Qur`an, dan (3) Materi
pemahaman al-Qur`an (dalam dunia sekarang dikenal fahmi al-Qur`an atau tafsir
al-Qur`an (Yunus, 1989: 11-12).
Ketiga, pendidikan amal dan ibadah, dimana
berupa perintah sholat yang awal mulanya, Nabi sholat bersama
sahabat-sahabatnya secara sembunyi-sembunyi. Namun setelah Umar ibn Khattab
masuk Islam beliau melakukannya secara terang-terangan. Pada mulanya sholat itu
belum dilakukan sebanyak lima kali sehari semalam kemudian setelah Nabi Isra’
dan Mi’raj barulah diwajibkan untuk sholat lima waktu. Selain itu, mengajarkan
seputar zakat, yakni semasa di Mekkah konsep zakat diberikan kepada fakir
miskin dan anak-anak yatim serta membelanjakan harta untuk jalan kebaikan.
Keempat, pendidikan akhlaq, di mana Nabi
semasa di Mekkah sangat menekankan kepribadian yang baik (akhlaqul mahmudah),
diantaranya :
- Adil yang mutlak, meskipun terhadap keluarga atau diri sendiri.
- Pemaaf.
- Menepati janji, tepat pada waktunya.
- Takut kepada Allah semata dan tiada takut kepada berhala.
- Berbuat kebaikan kepada kedua orangtua, dan sebagainya. (Yunus, 1989: 11-12)
Pada Islam Mekkah materi pengajaran al-Quran yang diberikan
hanya berkisar pada ayat-ayat al-Quran pada surah-surah yang diturunkan ketika
Nabi sebelum Hijrah ke Madinah. Surah yang diturun di Mekkah inilah yang
kemudian dikenal dengan nama surah Makkiyah (Suwendi, 2004:7).
D. Metode
Pendidikan Islam Di Mekkah
Pendidikan Islam adalah rangkaian usaha membimbing,
mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan – kemampuan dasar dan
kemampuan belajar, sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga terjadilah
perubahan pribadinya sebagai makhluk individual, sosial serta dalam hubungannya
dengan alam sekitar dimana ia hidup (Mahrus & Salim, 2008: 162).
Untuk mencapai pada pengertian pendidikan tersebut tentunya seorang
pendidik memerlukan metode-metode yang tepat dalam pelaksanaan pendidikan.
Begitu juga dengan Rasulullah dalam mendidik sahabat-sahabatnya. Adapun metode
pendidikan yang dilakukan Rasulullah dalam mendidik sahabatnya, antara lain :
- Metode ceramah.
- Dialog.
- Diskusi / tanya jawab.
- Metode perumpamaan.
- Metode kisah.
- Metode pembiasaan.
- Metode hafalan. (Nizar, 2007:35)
Adapun yang menjadi salah satu faktor penting metode
pendidikan Islam, adanya kejayaan pendidikan Islam yang dijalankan Rasulullah
Saw. Faktor tersebut ialah “karena beliau menjadikan dirinya sebagai model dan
teladan bagi umatnya. Rasulullah Saw adalah al-Qur’an yang hidup (the living
Qur’an), artinya pada diri Rasulullah SAW tercermin semua ajaran al-Qur’an
dalam bentuk nyata. Beliau adalah pelaksana pertama semua perintah Allah dan
meninggalkan semua larangannya. Oleh karena itu para sahabat dimudahkan dalam
mengamalkan ajaran Islam yaitu dengan meniru perilaku Rasulullah Saw.”
E. Kurikulum
Pendidikan Islam periode Mekkah
Kurikulum merupakan pedoman ataupun dasar dalam pelaksanaan
pendidikan. Pada masa Rasulullah kurikulum yang digunakan adalah Al Quran yang
Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang
dialami pada saat itu (Nizar, 2007:36). Al-Qur`an pu merupakan sentral
kurikulum saat itu, yang mana kurikulum saat itu masih sering di definisikan
dengan materi ajar. Maka, sebagai langkah awal, muatan materinya berfokus pada
nilai-nilai tauhid dalam menguatkan militansi untuk beragama Islam. Philip K Hitti
pun menambahkan, bahwasanya materi pelajaran atau kurikulum sangat berorientasi
kepada al-Qur`an sebagai texbook (Susari, 2004: 33).
F. Lembaga
Pendidikan Islam Pada Islam Mekkah
Dalam catatan sejarah pendidikan Islam di periode Mekkah,
menyebutkan ada dua tempat yang menjadi lembaga pendidikan Islam pada periode
Mekkah, di antaranya :
1.
Rumah Arqam ibn Arqam
Rumah Arqam ibn Arqam merupakan
tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah Saw untuk belajar
hukum-hukum dan dasar-dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaga
pendidikan pertama atau madrasah yang pertama sekali dalam Islam, adapun yang
mengajar dalam lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri.
2.
Kuttab
Kuttab merupakan tempat pendidikan yang paling tua, bahkan
ada yang mengatakan Kuttab lahir sebelum datangnya Islam. Pendidikan di Kuttab
pada awalnya lebih terfokus pada materi baca tulis sastra, syair Arab, dan
pembelajaran berhitung namun setelah datang Islam materinya ditambah dengan
materi baca tulis al-Quran dan memahami hukum-hukum Islam. Philip K. Hitti
menambahkan, bahwasanya materi pelajaran di Kuttab sangat berorientasi kepada
al-Qur`an sebagai texbook. Kuttab dalam modernisasi sekarang bisa disamakan
dengan madrasah ibtidaiyyah. Adapun waktu belajar di Kuttab, waktu pagi hingga
dhuha mempelajari al-Qur`an, dhuha hingga siang mempelajari cara menulis,
sedang dhuha hingga siang, mempelajari gramatikal Arab, matematika, dan
sejarah. (Nizar, 2007: 36-37, As Sirjani, 2011: 203, Susari, 2004: 34).
Dua tempat pendidikan tersebut, menjadi dasar perkembangan
tempat-tempat pendidikan yang semakin berkembangnya zaman, adanya inovasi,
khususnya pada bangunan tempat pendidikan, guna mengkondusifkan sebuah
pengajaran.
G.
Kontekstualisasi Pendidikan Islam di Indonesia
Dalam uraian panjang diatas, yang membahas bagaimana kondisi
pendidikan Islam di periode Mekkah (tinjauan Islam klasik), ada uraian penting
pendidikan Islam di Mekkah saat itu, di antaranya, materi, metode, kurikulum,
dan lembaga pendidikan Islam.
Pada era reformasi sekarang, khususnya potret pendidikan
Islam di Indonesia, ada sebuah harapan utama dari cita-cita pendidikan Islam
saat ini. salah satunya, masyarakat Indonesia membutuhkan peran pendidikan
sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitas manusia (Sanaky, 2003: 4).
Maka, gagasan pembaruan atau modernisasi pendidikan, khususnya pendidikan
Islam, menjadi diskurus pengembangan dalam kualitas pendidikan Islam.
Maka, dalam merespon pembaruan pendidikan tersebut, dengan
melihat perspektif pendidikan Islam saat di Mekkah, ada beberapa bentuk
kontekstualisasi pendidikan Islam di Mekkah ke dalam pendidikan Islam di
Indonesia saat ini, yakni berupa nilai aktualisasi pendidikan Islam di Mekkah
ke Indonesia, guna membentuk masyarakat madani Indonesia.
1. Visi Misi Pendidikan Islam
Dalam periode Mekkah visi misi yang di bangun saat itu lebih
mengarah pada penekanan Islam secara mendasar. Masih kuatnya agama nenek moyang
yang sudah bercampur dengan nuansa syirik, pendidikan Islam hanya menekankan
pada penguatan nilai-nilai ke Tauhid-an. Pada era sekarang, tantangan
pendidikan Islam semakin besar, Teuku Amiruddin (dalam Sanaky, 2003: 143)
mengusulkan lima visi dasar yang tawarkan oleh UNESCO (United Nation
Education Scientific, and Cultural Organization). Lima visi tersebut di
antaranya,
Pertama,
learning to think (belajar bagaimana berfikir), artinya proses
pemberanian sikap kritis, mandiri, dan hobi membaca.
Kedua, learning how to do (belajar bagaimana melakukan),
artinya memuat aspek-aspek ketrampilan dalam keseharian hidup termasuk bisa
memecahkan permasalahan pribadi.
Ketiga, learning how to be (belajar bagaimana menjadi diri),
artinya memuat aspek-aspek mendidik orang agar dikemudian hari, guna bisa
tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang mandiri, memiliki harga diri, dan
bukan hanya sekedar memiliki having (materi).
Keempat, learning how to learn (belajar
untuk belajar hidup), artinya menyadarkan bahwa pengalaman sendiri tidak cukup
untuk sebagai bekal hidup, sehingga terjadi ketidakpuasan, dan selalu belajar dan
belajar.
Kelima, learning live together (belajar hidup bersama), artinya
masyarakat pendidikan memberikan ruang bagi pembentukan kesadaran bahwa manusia
hidup dalam sebuah dunia yang global bersama banyak manusia dari belahan dunia
dan ragamnya latar belakang.
Dalam konsep ini, bila dipadukan dengan Islam, setidaknya
pendidikan Islam akan mengedepankan sikap rasional, kritis, mandiri, mampu
memecahkan masalah, mengembangkan sikap kreatif, imajinatif, toleransi,
perdamaian, menghargai hak asasi manusia serta siap bersaing di dunia yang
semakin global, itulah cita-cita pendidikan Islam dalam rumusan visi misi yang
ideal (Sanaky, 2003: 144).
Akan tetapi, dalam rumusan idealnya visi misi tersebut,
perlu dilandasi dengan core beliefs, core values, serta menetapkan
berbagai program “kebijakan” dan “strategi”, yaitu menetapkan berbagai program
dan kegiatan untuk mencapai tujuan dengan memanfaatkan berbagai potensi yang
ada.
2.
Strategi Pendidikan Islam
Strategi atau tahap-tahap pendidikan Islam di periode
Mekkah, dengan cara sembunyi-sembunyi, perseorangan, kemudian berlanjut secara
terang-terangan, dan berlaku secara universal. Artinya, Strategi tersebut masih
bisa di definiskan sebagai konsep da`wah. Dimana ada proses dan dilaksanakan
secara step by step. Sedangkan dalam pembangunan pendidikan, khususnya
pendidikan Islam kini, menurut Sanaky (2003: 145), ada empat strategi yang
dikembangankan, pertama, pemerataan kesempatan dalam memperoleh
pendidikan. Kedua, relevansi pendidikan, ketiga, peningkatan
kualitas pendidikan, dan keempat, efisiensi pendidikan (Sanaky, 2003:
145).
3.
Reorientasi Tujuan Pendidikan
Di periode Mekkah, tujuan pendidikan saat itu terbatas dalam
mengenal Islam secara mendasar dengan merujuk pada al-Qur`an dan as-Sunnah.
Sebagai turunan dari visi misi pendidikan Islam di atas, ada rumusan sederhana
tujuan pendidikan Islam, yakni mengupayakan kebahagiaan di dunia dan akhirat,
menghamba diri kepada Allah Swt, memperkuat keislaman, melayani kepentingan
masyarakat Islam, dan akhlak mulia (Sanaky, 2003: 153). Meminjam pendapat Hasan
Langgulung, tujuan pendidikan berorientasi pada tujuan dari sumber tersebut,
adanya realisasi dari pengetahuan, ketrampilan, tingkah laku, sikap, dan
kebiasaan (Langgulung, 1989: 9).
Pendapat
ini di perkuat Ibnu Khaldun (dalam Ramayulis, 1998: 25-26) menyatakan bahwa
tujuan pendidikan Islam mempunyai dua tujuan, yaitu; pertama, tujuan
keagamaan, ialah beramal untuk akhirat sehingga ia menemui Tuhannya dan telah
menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan ke atasnya. Kedua, tujuan ilmiah
yang bersifat keduniaan, yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern
dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan hidup.
Maka, sejatinya rumusan tujuan pendidikan Islam, sangat
diharapkan manusia (maksud peserta didik) membentuk pribadi muslim dalam
menentukan keeksistensiannya, berupa beribadah kepada Allah (QS. Adz Dzariyat
[56]: 56) dan memegang peran sebagai khalifah fil ardhi (QS. al-Baqarah
[2]: 30 ; QS. al-Isra` [17]: 70). Sanaky menambahkan, hal-hal tersebut yang
sejatinya bisa menyentuh hal yang bersifat problematis, strategis, antisipatif,
serta dapat menyentuh kepentingan masyarakat (Sanaky, 2003: 157). Maka, semangat
Qur`ani di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, atau meminjam istilah
Mangunwijaya dan Paulo Freire adalah pendidikan hadap masalah, artinya
tantangan pendidikan sebagai langkah solusi dalam memecahkan problem
masyarakat.
4.
Reorientasi Kurikulum
Kurikulum pendidikan Islam di masa klasik sering disamakan
dengan materi ajar. Dimana kurikulum atau materi ajar sangat terbatas pada
pelajaran-pelajaran agama, demi menguatkan nilai-nilai tauhid, untuk beribadah
pada Allah, dengan al-Qur`an dan as-Sunnah sumber pedoman hidup. Tetapi, dalam
pandangan modern, kurikulum tidak hanya terbatas pada materi ajar,
rencana pelajaran, atau bidang studi.
Akan tetapi orientasi kurikulum saat ini, dalam pandangan
Ahmad Tafsir semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di
sekolah, baik itu tujuan, isi, metode, proses, dan evaluasi belajar mengajar
(Tafsir, 2008: 53-54).
Melihat potret kurikulum pendidikan Indonesia, sering
terjadi bongkar-pasang (konstruksi) kurikulum. Perkembangan kurikulum mengalami
beberapa tahap konstruksi mulai dari tahun 1968, 1975, 1984, 1994, 2004 (KBK),
2006 (KTSP), (Muhaimin : 149). Terlebih dalam wacana sekarang ini (2013),
terdapat proyek baru dalam dunia pendidikan Indonesia, yakni “kurikulum 2013”
yang siap di terapkan pada pertengahan tahun 2013. Baik buruknya kurikulum ini,
belumlah bisa dinilai, karena belum di terapkan.
5.
Reorientasi Metodologi Pendidikan
Islam
Metodologi pendidikan sering diartikan sebagai
prinsip-prinsip yang mendasari kegiatan, mengarahkan perkembangan seseorang,
khususnya proses belajar mengajar (Sanaky, 2003: 191). Dalam pendidikan Islam,
metodologi diartikan usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang
berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sesuai dengan
nilai-nilai Islam, sehingga terjadilah perubahan pribadinya sebagai makhluk
individual, sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana ia hidup
(Mahrus & Salim, 2008: 162). Ahmad Tafsir (1998: 131), bahwasanya metode
pendidikan Islam dalam pelaksanaan pengajaran adalah untuk mengembangkan aspek
afektif menuju terbentuknya pribadi muslim.
Sedangkan menurut al-Nahwlawi (dalam Tafsir, 1998: 135),
metode pendidikan Islam harus sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa, dan
mengembangkan semangat. Di antara metode tersebut, antara lain: (a ) metode hiwar
(percakapan) Qur`ani dan Nabawi ; (b) metode kisah Qur`ani
dan Nabawi ; (c) metode amtsal (perumpamaan) Qur`ani
dan Nabawi ; (d) metode keteladanan dan pembiasaan ; (e) metode ibrah
dan mau`izah ; (f) metode targhib dan tarhib.
Metode tersebut, sekiranya sama halnya metode yang di
kembangkan oleh pemikir pendidikan dari Barat yang mengistilahkan metode active
learning (pembelajaran aktif). Dimana peserta didik terpusat sebagai subjek
dan objek pendidikan. Tidak ada sentralisasi (dominasi) pembalajaran dari guru.
Melihat diskursus pendidikan saat ini, ada salah satu
problematik dalam dunia pendidikan, yakni di khotomiknya ilmu. Dimana dalam
sisi epistemologi pendidikan, pendidikan Barat cenderung antroposentris mengedepankan
nilai-nilai kemasyarakatan, sedang pendidikan Islam terjebak pada dogma-dogma
agama (Abdullah, 2001: 105-106). Artinya perlu ada semangat mengintegrasikan
ilmu dan agama yang berujung pada internalisasi nilai-nilai Islam dalam ilmu
modern.
Sebagai implikasinya, konsepsi metodologi dalam pendidikan
Islam pun, mampu menjawab tantangan masyarakat (antrophosentris), yang
tentunya berbasis nilai-nilai keagamaan. Maka, orientasikan metodologi
pendidikan Islam adalah berupa pembelajaran (student learning) dengan
paradigma holistik, rasional, partisipatori, pendekatan empirik deduktif,
sehingga menghasilkan peserta didik yang berkualitas, kreatif, inovatif, yang
mampu menerjemahkan dan menghadirkan agama dalam perilaku individu dan sosial
di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern mulia (Sanaky, 2003: 200).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pokok pembinaan pendidikan Islam di kota Mekkah adalah
pendidikan tauhid, titik beratnya adalah menanamkan nilai-nilai tauhid ke dalam
jiwa setiap individu muslim. Hal ini ditanamkan Rasulullah Saw, karena pada
saat itu kondisi masyarakat Mekkah masih dalam keadaan jahiliyah dan masih
banyak yang menyembah berhala. Tujuan penanaman nilai-nilai tauhid ini adalah
agar jiwa mereka terpancar sinar tauhid dan tercermin dalam perbuatan dan
tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Islam Mekkah merupakan Islam terberat bagi Nabi
Muhammad SAW. Karena di Mekkah Nabi banyak mengalami kesulitan dan tantangan
dari masayarakat Mekkah yang masih belum menerima adanya agama Islam. Hal ini
dapat dilihat pada tahap awal Pendidikan Islam yang dilakukan Rasulullah yang
dilakukan secara tersembunyi dan hanya berkisar pada kerabat dekatnya saja.
Dan seiring perkembangan zaman, tantangan pendidikan,
khususnya dalam pendidikan Islam sangat besar. Dengan berpijak dasar pendidikan
Islam di periode Mekkah, penulis berupaya mereaktualisasikan konsep pendidikan
dalam dunia sekarang, khususnya sebagai respon dalam pendidikan Islam di
Indonesia. Ada beberapa aspek bentuk orientasi yang di uaraikan, berupa visi
misi, tujuan, kurikulum, dan metodologi dalam pendidikan Islam.
B. Kritik dan Saran
Tentulah dalam penulisan ini, masih luput dari berbagai
kekurangan, karena perlu disadari banyaknya ragam pengetahuan yang ada.
Keterbatasan dan kelemahan dari pengetahuan penulis juga mejadi faktor
ketidaksempurnaan penulisa ini. Maka, masukan dari dosen dan mahasiswa, ataupun
publik umum menjadi penutup di balik ketidaksempurnaan penulisan ini, semata
berikhtiyar untuk mencari sebuah idealnya sebuah realitas khususnya dalam
merespon diskursus pendidikan Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Shodiq. 2001. “Rekonsiliasi Epistemologi, Ikhtiyar
dalam Mengatasi Dikhotomik Ilmu dalam Pendidikan Islam”, dalam Abdul Khaliq,
dkk (ed). Paradigma Pendidikan Islam. Jogjakarta: Pustaka
Pelajar.
As Sirjani, Raghib. 2011. Sumbangan
Peradaban Islam pada Dunia. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.
Kuntowijoyo. 2008. Penjelasan
Sejarah. Jogjakarta: Tiara wacana.
Langgulung, Hasan. 1989. Manusia dan Pendidikan, Suatu
Analisa Psikologi, Filsafat, dan Pendidikan. Jakarta: Pustaka Al Husna.
Mahrus, Erwin, dan Moh. Haitami Salim. 2008. Pengantar Studi Islam. Pontianak :
STAIN Pontianak Press.
Muhaimin. 2009. Rekonstruksi
Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Nizar, Samsul. 2008. Sejarah Pendidikan Islam.
Jakarta : Kencana Prenada Media.
Ramayulis. 1998. Ilmu
Pendidikan Islam. Jakarta. Kalam Mulia.
Sanaky, Hujair A.H. 2003. Paradigma Pendidikan Islam,
Membangun Masyarakat Madani Indonesia. Jogjakarta: Safiria Insania
Press.
Susari. 2004. “Lembaga-lembaga Pendidikan Islam sebelum
Madrasah”, dalam Abuddin Nata (ed), Sejarah Pendidikan Islam, Periode
Klasik hingga Modern. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Suwendi. 2004. Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada.
Tafsir, Ahmad. 2008. Ilmu
Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Rosdakarya.
Yunus, Mahmud. 1989. Sejarah
Pendidikan Islam. Jakarta : PT. Hidakarya Agung.
Zuhairini, dkk. 1986. Sejarah
Pendidikan Islam. Jakarta: IAIN dan Depag
Tidak ada komentar:
Posting Komentar